PROPOSAL SKRIPSI
MANFAAT EKSTRAK BUAH MENGKUDU (MORINDA CITRIFOLIA)
TERHADAP PATOGENISISTAS BDB (Blood desease bacterium) PADA BUAH
PISANG (Musa sp)
OLEH
:
IRCHAMNIL
LUTFI
1205113124
1205113124
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
RIAU
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Tanaman pisang
berpotensi dikembangkan dalam memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri ataupun
ekspor. Tanaman pisang dapat tumbuh dan berkembang pada berbagai kondisi dari
dataran rendah beriklim basah seperti di
Sumatera dan Kalimantan, sampai ke dataran tinggi beriklim lebih kering di
daerah Indonesia bagian timur. Budidaya
tanaman pisang memiliki beberapa kendala serius karena adanya epidemi dari
patogen. Salah satu patogen yang menyerang tanaman pisang adalah jenis bakteri Ralstonia solanacearum yang dapat
menyebabkan penyakit darah dan tanaman layu. Secara internasional, bakteri
patogen tersebut dikenal dengan BDB (Blood desease bacterium).
Menurut (Rustam dalam
Ratri 2013), Mekanisme penularan BDB umumnya melalui serangga polinator pada
bunga pisang. Bakteri yang terbawa serangga kemudian melakukan penetrasi pada
nektartoda atau luka pada bunga pisang yang tidak menjadi buah, BDB dapat pula
menginfeksi melalui perakaran.
Gejala penyakit darah
pada tanaman pisang ditunjukkan oleh pelepah daun melemah kemudian patah pada
bagian pangkalnya sehingga daun terlihat patah menggantung. Warna daun menjadi
kuning kemudian nekrosis dan kering. Kulit buah sering tampak normal.
Kadang-kadang ada yang tampak kuning terlalu awal dan menghitam. Kalau buah
dipotong, bagian dalam buah akan berwarna merah kecoklatan atau menjadi busuk
berlendir. Kelayuan pada daun diawali dengan daun menguning dan mati,pada
tanaman muda terjadi kelayuan menyeluruh (Edy dalam Ratri 2013)
BDB pada tanaman pisang menyebabkan penurunan produksi pisang sebanyak
20-100%, sehingga perlu dilakukan pengendalian. Penggunaan
antibakteri dari ekstrak tanaman menjadi alternatif dalam pengendalian yang
lebih aman, efektif dan efisien dibanding menggunakan bahan kimia.
Tanaman mengkudu mengandung senyawa bersifat
antibakteri yaitu antrakuinon, alkaloid (Rukmana dalam Husna et all., 2014), flavonoid, acubin dan alizarin (Bangun
dan Sarwono, 2002) yang mampu melawan mikroorganisme patogen. Potensi yang
dimiliki mengkudu sebagai antibakteri diharapkan dapat menjadi suatu kajian
penelitian yang menarik jika diuji pada patogen tanaman khususnya BDB dalam
bentuk ekstrak dari buah mengkudu.
Berdasarkan hal tersebut maka, peneliti
tertarik untuk membahas “Manfaat ekstrak
buah mengkudu (Morinda citrifolia) terhadap
patogenisistas BDB (Blood Desease Bacterium) pada buah
pisang (Musa sp)”.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di
atas, maka dapat dibuat rumusan masalah
yaitu “bagaimanakah manfaat ekstrak
buah mengkudu (Morinda citrifolia)
sebagai antibakteri terhadap patogenisitas
BDB (Blood Desease Bacterium) pada
buah pisang (Musa sp)”?
C.
Tujuan Penulisan Makalah
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui manfaat ekstrak buah mengkudu (Morinda citrifolia) sebagai
antibakteri terhadap patogenisitas BDB (Blood Desease Bacterium) pada buah
pisang (Musa sp).
D.
Manfaat Penulisan Makalah
Hasil penulisan
makalah ini mampu memberikan informasi mengenai manfaatan
ekstrak buah mengkudu (Morinda citrifolia)
sebagai antibakteri terhadap
patogenisistas BDB (Blood Desease
Bacterium) pada buah pisang (Musa sp)
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Biologi Tanaman Pisang (Musa sp)
Tanaman
pisang berpotensi dikembangkan dalam memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri
ataupun ekspor. Tanaman pisang dapat tumbuh dan berkembang pada berbagai
kondisi
dari dataran rendah beriklim basah
seperti di Sumatera dan Kalimantan,
sampai ke dataran tinggi beriklim lebih kering di daerah Indonesia bagian
timur.
Secara umum, tanaman pisang dapat tumbuh baik di dataran
rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian 100 m dari permukaan laut.
Tanaman pisang senang hidup di tempat yang tanahnya lembab dan terbuka -
mudah terkena sinar matahari. Pisang mempunyai batang semu yang tersusun atas
tumpukan pelepah daun yang tumbuh dari batang bawah tanah sehingga mencapai
ketebalan 20-50 cm. Daun yang paling muda terbentuk dibagian tengah tanaman,
keluarnya menggulung dan terus tumbuh memanjang, kemudian secara progresif
membuka.
![]() |
Gambar 2.1 Morfologi tanaman pisang (Musa sp)
Sumber: Arnold 2011
Tanaman pisang (Musa
sp) dapat di klasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan
berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu /
monokotil)
Ordo : Zingiberales
Genus : Musa
Spesies : Musa
sp
Sumber:
plantamor
Berikut ciri-ciri tanaman pisang :
1.
Daun dan Batang
Daun tanaman pisang
lebar dan panjang, tulang daun besar, dan tepi daun tidak mempunyai ikatan yang
kompak sehingga mudah robek jika terkena angin kencang. Batang berbonggol
banyak mata tunas yang dapat menjadi tunas anakan.
2.
Bunga
Bunga pisang keluar
pada ujung batang dan hanya sekali berbunga selama hidupnya. Bunga pisang
disebut jantung karena bentuknya seperti jantung. Jantung ini berwarna merah
tua, tetapi ada pula yang berwarna kuning dan ungu. Setiap jantung terdiri atas
satu atau banyak bakal buah (sisir). Setiap sisir dilindungi oleh sebuah daun
kelopak. Bunganya sempurna, tetapi pada ujung jantung umumnya berbunga jantan.
Satu persatu akan mekar dan tampak sisirnya. Ujung jantung tidak mekar sehingga
tersisa jantungnya.
3.
Buah
Terjadinya
penyerbukan pada buah pisang, yaitu dengan bantuan serangga penyerbuk, tetapi
umumnya tepung sari tidak terlalu subur. Oleh karena itu, banyak pisang yang
tidak berbiji.
4. Akar
Akar pada tanaman
pisang berupa akar serabut yang banyak, tetapi lunak.
B.
Biologi Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L)
Tanaman
ini tumbuh di dataran rendah hingga pada ketinggian 1500 m. Tinggi pohon
mengkudu mencapai 3-8 m, memiliki bunga bongkol berwarna putih. Buahnya
merupakan buah majemuk, yang masih muda berwarna hijau mengkilap dan memiliki
totol-totol, dan ketika sudah tua berwarna putih dengan bintik-bintik hitam.

Gambar 2.2 Buah
mengkudu
Sumber : Encik
2010
Tanaman mengkudu (Morinda
citrifolia) dapat di klasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Rubiales
Famili : Rubiaceae (suku kopi-kopian)
Genus : Morinda
Spesies : Morinda citrifolia L
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Rubiales
Famili : Rubiaceae (suku kopi-kopian)
Genus : Morinda
Spesies : Morinda citrifolia L
Sumber:
plantamor
Tanaman mengkudu mengandung senyawa bersifat antibakteri yaitu antrakuinon,
alkaloid (Rukmana, 2002 dalam Husna et all., 2014), flavonoid, acubin
dan alizarin (Bangun dan Sarwono, 2002 dalam Husna et all., 2014) yang mampu
melawan mikroorganisme patogen. Efek menghambat pertumbuhan bakteri
dari ekstrak mengkudu
diduga berkaitan dengan senyawa
fenol yang dikandungnya.
Senyawa fenol merupakan senyawa yang
tersebar luas sebagai zat warna alam yang menyebabkan warna pada bunga,
kayu, buah. Senyawa
fenol yang terdapat
pada buah mengkudu berkisar antara 5,94 – 36,52g/ 100g material kering (Rohman, et
al). Volk dan Wheeler (1984),
Pelczar dan Reid
(1988) menyatakan bahwa
fenol mampu melakukan migrasi
dari fase cair ke fase lemak yang terdapat pada membran sel menyebabkan turunnya
tegangan permukaan membran
sel (Rahayu, 2000 dalam K. Widyani 2011). Selanjutnya
mendenaturasi protein dan mengganggu fungsi membran sel sebagai lapisan yang
selektif, sehingga sel menjadi lisis (Jawetz et all., 2008).
Oleh karena itu fenol berperan
sebagai senyawa antibakteri.
Senyawa fenol yang
terdapat dalam mengkudu
diantaranya adalah antraquinon,
acubin dan alizarin.
Ketiga senyawa ini mengandung zat antibakteri (Bangun dan Sarwono, 2002
dalam Husna et all., 2011)
C.
Biologi BDB (Blood
desease bacterium)
Bakteri
penyebab layu dan penyakit darah atau “Blood Disease Bacterium” tersebut
di Indonesia awalnya dikenal dengan nama Pseudomonas celebencis, lalu berubah
menjadi Pseudomonas solanacearum, kemudian berganti menjadi Ralstonia solanacearum setelah
ditetapkan bahwa bakteri ini masuk dalam genus Ralstonia (Fegan 2005 dalam N eddy, 2011).
Hasil
identifikasi dari serangkaian uji
fisiologi dan biokimia terhadap BDB sesuai karakteristik Ralstonia yang
dilaporkan Schaad et all., .(2001)
(dalam Husna et all., 2014) adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 Hasil Uji Fisiologi dan
Biokimia BDB
Uji Fisiologi dan Biokimia
|
Reaksi
|
Reaksi
(Schaad et all.,
2001)
|
Uji KOH 3%
|
+
|
+
|
Uji pengecatan
gram
|
+
|
+
|
Uji oksidatif-fermentatif
|
-
|
-
|
Pigmen Fluoresen
pada Media King’s B
|
-
|
-
|
Pertumbuhan pada media
YDC
|
-
|
-
|
Pertumbuhan pada D1M Agar
|
-
|
-
|
Pengujian
pada Media Arginin
|
-
|
-
|
Pertumbuhan pada Suhu 40oC
|
-
|
-
|
Hasil uji
KOH
setelah BDB dicampur dengan larutan KOH
3% terdapat lendir
berwarna putih
saat
suspensi BDB diangkat dengan ose
sehingga diketahui bahwa BDB merupakan bakteri
Gram negatif. Hal tersebut sesuai dengan Schaad
dkk. (2001) bahwa pada pengujian KOH bakteri Gram
negatif menjadi berlendir jika
ose diangkat, sedangkan
bakteri Gram positif tidak berlendir.
Pada
uji pewarnaan Gram, setelah
diamati dengan mikroskop koloni BDB berwarna
merah. Berdasarkan Schaad dkk.
(2001) hasil uji Gram dengan teknik pewarnaan untuk bakteri
Gram positif
berwarna ungu
sampai biru kehitaman,
sedangkan Gram negatif berwarna merah.
Menurut Schaad
dkk (2001) pengamatan dilakukan dengan melihat perubahan warna media dari warna
biru menjadi kuning pada tabung yang tidak
dilapisi water agar tetapi tidak terjadi
perubahan warna
pada tabung
yang
dilapisi water agar.
BDB
ditumbuhkan pada
media King’s B dan inkubasi
selama 24 jam, setelah diamati di bawah sinar
UV terlihat tidak berpendar hijau kekuningan. Hal tersebut menunjukkan BDB tidak
mengeluarkan pigmen fluorescent. Berdasarkan Schaad dkk (2001)
adanya
pigmen fluorescent setelah bakteri ditumbuhkan pada
medium King’s B
menunjukkan bahwa bakteri
termasuk golongan Pseudomonas fluorescens.
Hasil
pengujian pertumbuhan
pada media YDC menunjukkan koloni BDB yang diinkubasi selama 48
jam berwarna putih. Berdasarkan Schaad
dkk. (2001) untuk genus Ralstonia,
Agrobacterium, Acidovorax
dan Burkholderia koloni bakteri tidak berwarna
kuning pada media YDC.
Bakteri uji yang diinkubasi
pada media D1M agar selama 48 jam tidak menunjukkan adanya
pertumbuhan pada media, hanya terlihat goresan awal pada
saat streak bakteri
pada media.
Menurut Schaad dkk. (2001)
bakteri yang dapat tumbuh pada
media ini menunjukkan hasil
positif, yaitu
jenis bakteri dari
genus Agrobacterium. sedangkan
bakteri genus Acidovorax, Burkholderia, dan
Ralstonia tidak mampu tumbuh pada
media D1M agar.
Hasil pengujian pada media arginin
menunjukkan bahwa pada
kondisi media yang dilapisi water agar tidak terjadi
perubahan warna media,
media tetap berwarna orange setelah7 hsi. Berdasarkan
Lelliot dan Steade (1987) reaksi positif
pengujian pada media arginin
apabila
terjadi perubahan warna media menjadi merah muda. Menurut
Schaad dkk. (2001) bakteri dari
genus Burkholderia mampu
menunjukkan reaksi positif jika diuji pada
media arginin.
Dengan
demikian
pengujian tersebut menunjukkan
bahwa BDB tidak dapat tumbuh pada
media berbahan arginin.Sehingga dapat diketahui bahwa
BDB tidak termasuk dalam genus Burkholderia.
Pengujian pertumbuhan pada
suhu
40oC
dilakukan untuk membedakan genus Ralstonia dengan
genus Acidovorax. Pada perlakuan suhu
40oC dan diinkubasi selama
24 jam BDB tidak mampu tumbuh
pada media. Berdasarkan Schaad dkk.
(2001) genus Acidovorax
mampu memberikan reaksi positif yaitu mampu tumbuh
jika diberi perlakuan
suhu 40oC, sedangkan
untuk genus Ralstonia tidak
mampu tumbuh pada perlakuan suhu 40oC.
Sehingga
dapat diketahui bahwa
BDB
tidak termasuk
dalam genus Acidovoraxdan merupakan salah
satu
spesies dalam genus Ralstonia.
Hasil identifikasi tersebut dapat dijadikan dasar
bahwa BDB yang diisolasi dari buah pisang yang bergejala busuk coklat kemerahan
termasuk salah satu spesies dalam genus Ralstonia.
Ralstonia
solanacearum merupakan bakteri patogen tular tanah yang menjadi
faktor pembatas utama dalam produksi berbagai jenis tanaman di dunia. Bakteri
ini tersebar luas di daerah tropis, sub tropis, dan beberapa daerah hangat
lainnya. Spesies ini juga memiliki kisaran inang luas dan dapat menginfeksi
ratusan spesies pada banyak famili tanaman yang mempunyai arti penting dalam ekonomi
(Olson, 2005 dalam Anonim, 2013).
Berdasarkan kisaran inangnya, Ralstonia
solanacearum dikelompokkan menjadi 5 ras. Ras 1 menyerang tanaman tembakau,
tomat dan famili solanaceae lainnya, ras 2 menyerang tanaman pisang, ras 3
menyerang tanaman kentang, ras 4 menyerang tanaman jahe, dan ras 5 menyerang
tanaman mulberry (Danny dan Hayward, 2001 dalam Anonim, 2013).
Menurut Agrios (2005) (dalam Anonim
2013), Ralstonia solanacearum diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom :
Prokaryotae
Divisi :
Gracilicutes
Subdivisi :
Proteobacteria
Famili :
Pseudomonadaceae
Genus :
Ralstonia
Spesies :
Ralstonia solanacearum

Gambar 2.3 bakteri Ralstonia
solanacearum
Sumber: anonimous 2015
Ralstonia solanacearum adalah
spesies yang sangat kompleks. Hal ini disebabkan oleh variabilitas genetiknya
yang luas dan kemampuannya untuk beradaptasi dengan lingkungan setempat,
sehingga di alam dijumpai berbagai strain Ralstonia solanacearum dengan
ciri yang sangat beragam. Ditinjau dari segi morfologi dan fisiologinya, Ralstonia
solanacearum merupakan bakteri gram negatif, berbentuk batang dengan ukuran
0,5-0,7 x 1,5-2,5 μm, berflagela, bersifat aerobik, tidak berkapsula, serta
membentuk koloni berlendir berwarna putih (Tim Penulis Penebar Swadaya, 2003
dalam Anonim, 2013). Bakteri ini menginfeksi akar tanaman melalui luka yang
terjadi secara tidak langsung pada waktu proses pemindahan tanaman maupun luka
akibat tusukan nematoda akar, dan secara langsung masuk ke dalam bulu akar/akar
yang sangat muda dengan melarut dinding sel. Infeksi secara langsung lebih banyak
terjadi jika populasi bakteri di tanah terdapat dalam jumlah yang tinggi
(Rustam, 2007 dalam Husna 2014).
Ralstonia solanacearum
menghasilkan polisakarida extraseluler (Extracelluler polysaccharide=EPS).
Produksi EPS mempunyai peranan penting dalam patogenisitas dan virulensi
bakteri patogen tanaman. Senyawa ini mempengaruhi kondisi ruang antar sel dalam
tanaman sehingga cocok untuk perkembangan bakteri. Peranan EPS dalam
infeksi patogen dan inang telah dilaporkan anatara lain: mencegah pengenalan
bakteri pada tanaman inang, perubahan penggunaan karbohidrat dan membatasi
pergerakan air. (Abazar,2004 dalam Anonimus 2013).
D.
BDB (Blood
Desease Bacterium) pada tanaman Pisang (Musa sp)
BDB (Blood Desease Bacterium) mempengaruhi tanaman pisang dan pisang raja di
Indonesia serta menyebabkan penurunan produksi penting di banyak tempat di
negara tersebut. Suatu perubahan warna coklat kemerah-merahan dari
jaringan vaskular dan buah merupakan gejala khas penyakit tersebut. Agen
penyebab blood disease aslinya dinamakan Pseudomonas celebensis, namun
uraiannya belum cukup berdasarkan standar modern. Bakteri tersebut
dipercaya berkaitan erat dengan Ralstonia solanacearum, agen penyebab
penyakit layu pada berbagai tanaman, termasuk pisang (Baharuddin, 2007).
Hasil uji patogenisitas pada buah pisang menunjukkan gejala perubahan warna
menjadi cokelat kemerahan pada daging buah dan terdapat lendir berwarna merah.
Hal tersebut sesuai dengan Devi (2013) bahwa hasil uji patogenisitas BDB pada
buah pisang menunjukkan gejala perubahan warna kuning hingga kecoklatan serta
menimbulkan warna merah pada daging buah.

Gambar
2.4 Tanaman dan buah pisang terinfeksi BDB
Mekanisme penularan BDB umumnya melalui serangga
polinator pada bunga pisang. Bakteri yang terbawa serangga kemudian melakukan
penetrasi pada nektartoda atau luka pada bunga pisang yang tidak menjadi buah,
BDB dapat pula menginfeksi melalui perakaran (Rustam, 2007 dalam Devi
2013). Bakteri
masuk kedalam jaringan akar tanaman melalui lubang alami, luka buatan akibat
alat pertanian, maupun luka akibat tusukan stilet nematoda. Gejala penyakit
darah pada tanaman pisang ditunjukkan oleh pelepah daun melemah kemudian patah
pada bagian pangkalnya sehingga daun terlihat patah menggantung. Warna daun
menjadi kuning kemudian nekrosis dan kering. Kulit buah sering tampak normal.
Kadang-kadang ada yang tampak kuning terlalu awal dan menghitam. Kalau buah
dipotong, bagian dalam buah akan berwarna merah kecoklatan atau menjadi busuk
berlendir. Kelayuan pada daun diawali dengan daun menguning dan mati, pada
tanaman muda terjadi kelayuan menyeluruh (Edy, 2008 dalam Devi
2013).
E.
Manfaat Ekstrak Mengkudu (Morinda citrifolia) terhadap patogenisitas BDB (Blood Desease Bacterium) pada tanaman Pisang (Musa sp)
Uji sensitivitas
antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar
menggunakan lubang sumuran. Media yang digunakan adalah media
NA.
Uji sensitivitas antibakteri menggunakan rancangan acak
lengkap (RAL) dengan enam macam perlakuan
yaitu ekstrak
buah 30%, ekstrak buah
60%, ekstrak buah
90%,
Perlakuan
diulang sebanyak
3 kali. Kontrol terdiri
dari aquades,
alkohol 96%, dan streptomisin.
Uji penekanan
pertumbuhan
BDB dilakukan dengan
menginjeksikan 1000 µl antibakteri. Uji
penekanan
pertumbuhan BDB pada
buah pisang menggunakan rancangan
acak lengkap (RAL) dengan
enam perlakuan yaitu
kontrol (BDB) aquades,
alkohol, streptomicin, ekstrak buah 30%, ekstrak buah 60%
dan ekstrak buah 90%. Perlakuan diulang
sebanyak 3 kali, dan diukur dengan jangka sorong.
1. Uji
Sensitivitas Antibakteri
Pengujian sensitivitas antibakteri menggunakan 4 perlakuan. Dimana A adalah
ekstrak buah mengkudu, B adalah aquades sebagai kontrol, C adalah Alkohol dan D
adalah Streptomisin. Seperti terlihat pada gambar berikut:



A
D A D A D
B C B C B
C
Ekstrak 30% Ekstrak 60% Ekstrak 90%



A D A D A D
B C B C B C
Ekstrak
30% Ekstrak 60% Ekstrak 90%
Gambar 2.5
Perbandingan hasil uji sensitivitas antibakteri
(pengamatan hari
pertama).
Keterangan: A: ekstrak buah mengkudu, B: aquades, C: alkohol, D:streptomisin.
Pada kontrol aquades tidak terdapat zona hambat disekeliling lubang
sumuran, sehingga pemberian aquades tidak berpengaruh terhadap penghambatan
BDB. Pada kontrol alkohol zona hambat yang terbentuk tidak berbeda nyata dengan
perlakuan kontrol aquades. Hal tersebut menunjukkan pelarut yang digunakan
untuk pembuatan ekstrak tidak berpengaruh sebagai antibakteri terhadap BDB.
Sedangkan kontrol streptomisin mampu menghasilkan zona hambat pertumbuhan BDB.
Pada pengujian sensitivitas antibakteri setelah dianalisis menggunakan uji
Duncan taraf kesalahan 0,05 menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata antara
perlakuan ekstrak buah mengkudu jika dibandingkan dengan kontrol aquades,
alkohol dan streptomisin (Tabel 2).
Tabel 2.2 Penghambatan ekstrak
buah mengkudu terhadap
pertumbuhan BDB
Perlakuan
|
Rerata zona
hambat ekstrak terhadap BDB pada pengamatan hingga hari ketiga (mm)
|
||
1
|
2
|
3
|
|
Kontrol aquades
|
0.00
a
|
0.00
a
|
0.00
a
|
Kontrol alkohol
|
2.10 ab
|
0.00 a
|
0.00 a
|
Kontrol streptomisin
|
28.43 f
|
24.40 d
|
23.30 d
|
Ekstrak buah
30%
|
11.70cd
|
10.57 bc
|
9.87 bc
|
Ekstrak buah
60%
|
17.73 de
|
13.17 bc
|
12.40bc
|
Ekstrak buah
90%
|
22.10ef
|
16.93 c
|
15.40c
|
Keterangan: angka disertai huruf yang sama pada kolom
yang sama menunjukkan tidak terdapat beda nyata pada perlakuan
Perlakuan ekstrak buah 30%,
60% dan 90% mampu menghasilkan zona hambat pertumbuhan BDB. Pada perlakuan
ekstrak buah 90% mampu menghasilkan zona hambat lebih lebar jika dibandingkan
dengan ekstrak buah 30% dan 60% yaitu sebesar 22.10 mm. Penggunaan ekstrak buah
90% lebih baik dalam menekan pertumbuhan BDB. Hal tersebut menunjukkan semakin
tinggi konsentrasi ekstrak yang maka zona hambat yang terbentuk semakin lebar.
Sesuai dengan Ajizah (2004) dalam Husna et
all., (2014) bahwa semakin pekat konsentrasi suatu ekstrak maka senyawa
metabolit sekunder yang terkandung di dalamnya akan semakin banyak sehingga
memberikan pengaruh terhadap diameter zona hambat yang terbentuk.
Ekstrak buah mengkudu lebih efektif untuk menekan pertumbuhan BDB.
Berdasarkan Rukmana (2002) dalam Devi (2013). Buah mengkudu mengandung zat yang berfungsi
sebagai antibakteri yaitu senyawa antrakuinon dan alkaloid. Senyawa lain yang
bersifat antibakteri pada buah mengkudu adalah flavonoid, alizarin dan acubin
(Bangun dan Sarwono, 2002 dalam Husna et
all., 2014). Zat antibakteri ini
diduga dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti BDB.
Berdasarkan Dani et all., . (2010) lebar zona hambat dari
ekstrak tanaman semakin lama semakin mengalami penurunan, hal ini menunjukkan
efektifitas zat antibakteri yang terkandung juga semakin menurun.
2.
Uji Penekanan
Pertumbuhan BDB pada Buah Pisang

Uji penekanan
pertumbuhan
BDB dilakukan dengan
menginjeksikan 1000 µl antibakteri yang
disertai inokulasi suspensi BDB 500 µl pada
kerapatan 8,2x1010
cfu/ml.seperti pada
gambar berikut:
akhir
Kontrol
(BDB) Aquades
Alkohol Streptomisin



Ekstrak buah 90% Ekstrak buah 60% Ekstrak buah 30%
Gambar 2.6 Hasil uji penekanan pertumbuhan BDB pada buah pisang setelah tiga hsi.
Sumber: Baroroh et all., Uji efektivitas antibakteri ekstrak buah mengkudu
Pada uji penekanan
pertumbuhan BDB pada buah pisang, setelah
dianalisis menggunakan uji Duncan taraf kesalahan 0,05 menunjukkan
pengaruh yang berbeda nyata pada perlakuan streptomisin dan perlakuan ekstrak
buah 90% (Tabel 3).
Tabel
3. Hasil Uji Penekanan Pertumbuhan
BDB pada Buah
Pisang
Perlakuan
|
Rerata
Presentase Panjang Plasenta Buah yang Terserang BDB
|
Kontrol
(BDB)
|
50.91 c
|
Aquades
|
52.48 c
|
Streptomisin
|
0 a
|
Alkohol
96%
|
41.05 c
|
Ekstrak buah 30%
|
43.08 c
|
Ekstrak buah 60%
|
40.79 c
|
Ekstrak buah 90%
|
18.13 b
|
Keterangan: angka disertai huruf yang sama pada kolom
yang sama menunjukkan tidak terdapat beda nyata pada perlakuan
Pada kontrol tingkat
kerusakan plasenta buah pisang memiliki presentase sebesar 50,91%. Gejala yang
ditimbulkan adanya perubahan warna coklat kemerahan mengikuti panjang plasenta
pisang.
Pada perlakuan pemberian
aquades yang disertai inokulasi BDB memiliki tingkat kerusakan plasenta yang
tidak berbeda nyata dengan kontrol. Begitu juga dengan perlakuan alkohol
tingkat kerusakan plasenta buah tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol.
Perlakuan streptomisin memiliki tingkat kerusakan plasenta buah yang
berbeda nyata dengan kontrol. Pada perlakuan streptomisin gejala yang muncul
yaitu adanya warna coklat pudar pada tepi plasenta buah, sedangkan pada
plasenta buah masih berwarna putih tanpa ada perubahan warna. Berdasarkan
Flanagan (2004 dalam Husna et all., 2014) streptomisin bersifat bakterisida untuk
organisme yang peka dengan cara penghambatan sintesis protein.
Perlakuan ekstrak buah
konsentrasi 90% tingkat kerusakan yang dihasilkan berbeda nyata dengan
perlakuan kontrol. Tingkat kerusakan yang dihasilkan relatif kecil yaitu
sebesar 18,13%. Gejala yang muncul adalah adanya warna coklat muda pada sekeliling
plasenta buah yang merupakan persebaran ekstrak dan adanya warna coklat
kehitaman tipis dibagian tepi ekstrak yang diduga BDB.
Hal tersebut menunjukkan
bahwa ekstrak buah mengkudu dengan konsentrasi 90% efektif dalam menekan
pertumbuhan BDB pada buah pisang, sedangkan ekstrak buah konsentrasi 30% dan
60% tidak efektif dalam menekan pertumbuhan BDB.
Menurut Pelczar dan Chan
(1988), bahwa semakin tinggi konsentrasi suatu bahan antibakteri maka aktivitas
antibakterinya semakin besar pula. Dengan konsentrasi ekstrak yang semakin
tinggi maka kandungan senyawa ataupun zat antibakteri didalamnya juga akan
semakin banyak (Efri dan Aeny,2004 dalam Husna, 2014).
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan penulisan makalah ini dapat
disimpulkan bahwa,
Ekstrak buah mengkudu mampu menghambat pertumbuhan
BDB. Berdasarkan hasil penelitian Husna et
all., 2014 tentang uji sensitivitas
antibakteri dan uji penekanan pertumbuhan
BDB pada buah pisang dapat diketahui bahwa perlakuan ekstrak
buah mengkudu konsentrasi 90% paling
efektif dalam menekan
pertumbuhan BDB.
B.
Saran
perlu
dilakukan pengujian yang lebih lanjut dengan konsentrasi yang lebih besar atau
dengan memanfaatkan bagian tanaman mengkudu yang lainnya untuk mengetahui
kemampuan dalam menghambat pertumbuhan BDB.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonimous. 2013. Oranisme Pengganggu Tumbuan (OPT) pada Tanaman Tomat Ralstonia solanacearum. http://opttomatk11.
blogspot.com /2013/04/ dptkelompok11opt2ralstoniumsolanacearum. html
diakses pada tanggal 10-03-2015
pukul 07.28 WIB
A.P. Bangun., B.
Sarwono. 2002. Khasiat dan Manfaat Mengkudu. Jakarta: Agro Media Pustaka
Devi, R. K. 2013. Uji Metode Inokulasi dan Patogenisitas Blood
Disease Bacterium (BDB) pada Buah Pisang. Skripsi. Fakultas
Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang.
Dewi, F. K. 2010. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah Mengkudu (Morinda Citrifolia, Linnaeus) Terhadap
Bakteri Pembusuk Daging Segar.Skripsi.Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan
Alam. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Dia Faroka, Sri
Rahayu dan Muhaimin Rifa’i. 2013. Profil
Gr-1 dan CD34 Mencit yang Diinfeksi Staphylococcus aureus Pacsa
Pemberian Ekstrak Buah Mengkudu (Morinda citrifolia). Jurnal. Exp. Life Sci. Vol. 3 No. 1 :
13-19
Efri dan
Aeny,
T. N.
2004. Keefektifan
Ekstrak Mengkudu pada
Berbagai Konsentrasi Terhadap Penghambatan Pertumbuhan
Bakteri Ralstonia sp.
Secara In Vitro. J Hama
dan Peny.
Tumb. Tropika. Vol 4 No.
2 : 83 – 88.
Hadiwiyono. 2010.
Penyakit Darah Pada Tanaman Pisang Infeksi dan Keanekaragaman Genetika Patogen.
Disertasi. Jogjakarta: Universitas Gadjah Mada.
Husda Marwan et all., . 2011.
Isolasi Dan Seleksi Bakteri Endofit Untuk Pengendalian Penyakit Darah Pada Tanaman
Pisang. J. HPT Tropika. Vol.
11, No. 2: 113 – 121
Husna Fikriya
Baroroh, Luqman Qurata Aini dan Abdul Latief Abadi. 2014. Uji Efektivitas Antibakteri Ekstrak Daun Dan Buah Mengkudu (Morinda Citrifolia L.)
Terhadap Blood Disease Bacterium. Jurnal HPT Volume 2 Nomor 2 : 87-97
Made Sumitha
Kameswari, Hapsari Mahatmi dan I Nengah
Kerta Besung. 2013. Perasan Daun
Mengkudu (Morinda citrifolia) Menghambat Pertumbuhan Bakteri Escherichia
coli secara In Vitro. Indonesia
Medicus Veterinus 2(2)
: 216 - 224
Nur Edy. 2011. Pengendalian Hayati Penyakit
Darah Pada Pisang Dengan Pseudomonad Fluoresen Dan Bacillus spp. Jurnal.
Agroland
18 (1) : 29 – 35
Nur Edy, P Johanis
dan Baharuddin.
2008. Karakterisasi Morfologi Patogenisistas dan Biokimia Bakteri Penyebab Penyakit Darah
pada
Pisang di Lembah Palu. J. Agrisains
9(2):65-72
Rustam. 2007. Uji Metode Inokulasi dan Kerapatan Populasi Blood
Disease Bacterium pada Tanaman Pisang. Jurnal Hort 17(4) : 387-392
Ratri
Kusuma Devi, Luqman Qurata Aini dan Abdul Latief Abadi. 2013. Uji Metode Inokulasi Dan Patogenisitas Blood
Disease Bacterium (Bdb) Pada Buah Pisang (Musa
Sp.). Jurnal HPT
Volume 1 Nomor 1 : 40-46







0 komentar:
Posting Komentar